Sabtu, 23 April 2011

potensi kepiting bakau

Tahapan dan Teknik Bertambak Kepiting Bakau

1. Memilih Metode Tambak

Metode budidaya kepiting bakau yang sesuai dengan kondisi lahan rawa di Kabupaten Tanjab Barat ini, adalah menggunakan sistem hamparan tambak dalam ukuran luas tertentu, dengan penebaran 5 ekor bibit kepiting bakau/m2. Namun untuk mencari bibit yang jumlahnya sampai ribuan ekor sekaligus, sesuai dengan ukuran luas tambak, rasanya tidak mungkin. Maka untuk mencapai jumlah penebaran bibit itu dilakukan secara bertahap, dan cara memanennyapun secara selektif pula.

2. Cara Memperoleh Bibit

Keberhasilan suatu budidaya kepiting bakau di samping ditunjang teknik budidaya yang handal, tersedianya bibit juga sangat menentukan. Untuk usaha budidaya penggemukan kepiting ada cara untuk memperoleh bibit, yaitu: Para pemancing menjual kepada pedagang pengumpul, yang kemudian oleh pedagang pengumpil diseleksi sesuai dengan ukuran yang sudah ditentukan. Untuk ukuran konsumsi langsung dijual kepada petani pembudidaya. Biasanya ukuran bibit kepiting bervariasi antara 100 – 200 gr. Harga bibit kepiting bakau bervariasi antara Rp. 2.000,00-Rp.3.000,00 per ekor.

3. Pemberian Pakan

Kepiting bakau termasuk hewan Carnivora (pemakan daging). Bahan pakan untuk kepiting mudah didapat. Pakan kepiting bakau berupa ikan rucah, siput, wideng, dll.Pemberian pakan dilakukan 2-3 kali sehari, yaitu: pagi, sore dan malam hari. Adapun dosis pemberian pakan antara 5 – 15% dari perkiraan berat badan kepiting bakau yang dipelihara.

4. Pemanenan dan Cara Pengemasannya

Masa pemeliharaan penggemukan kepiting bakau relatif singkat atau juga tergantung dari awal penebaran bibit. Untuk bibit ukuran 100 gram dalam masa pemeliharaan 1,5 – 2 bulan sudah bisa mencapai ukuran konsumsi (3–4 ekor/kg). Namun apabila awal sudah mempunyai berat lebih dari 200 gram, maka masa pemeliharaan bisa lebih singkat. Petani memanen kepiting bakau dilakukan secara selektif yaitu dengan cara memancing dan memisahkannya antara kepiting bakau yang gemuk dan matang telur.

Kepiting bakau yang sedang matang telur mempunyai harga yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang lain. Kepiting bakau sebelum diikat diletakkan ke dalam air bersih beberapa saat. Setelah itu kepiting bakau baru diikat kakinya dengan tali raffia atau karet, kemudian dimasukkan ke dalam keranjang atau tempat lainnya yang diberi alas bawah dan penutup atasnya dari handuk atau kain basah sebagai pelembab. Sehingga dengan demikian, kulit kepiting bakau tidak dapat mengeras kembali sampai dikonsumsi.

5. Pemasaran

Pemasaran kepiting bakau konsumsi belum ada permasalahan. Bahkan permintaan pasar belum terpenuhi, karena produksi kepiting bakau sampai saat ini masih menghandalkan hasil tangkapan. Pemasarannya bisa dilakukan di pasar, toko swalayan, pedagang pengumpul (depol) atau pengusaha rumah makan yang menyediakan sea food. Mengenai harga pada umumnya bervariasi tergantung di mana dipasarkan. Di pasar lokal harga berkisar Rp. 35.000,00 pr kg untuk size 3 atau size 4 (isi 3 sampai 4 ekor per kg). Harga jual di Singapura, Hongkong dan Pulau Batam mencapai Rp. 20.000,00 per ekor. Sedangkan untuk kepiting bakau matang telur harga sampai berkisar Rp. 70.000,00 per kg.

Kesimpulan

Dengan memahami potensi usaha tambak kepiting bakau di lahan-lahan rawa di Kabupaten Tanjab Barat yang sangat prospektif, terutama untuk meningkatkan perekonomian masyarakat dan daerah, di samping pemanfaatan lahan-lahan tidur menjadi lahan produktif, maka dipandang sangat tepat dan sangat diharapkan sekali jika pemerintah daerah Kabupaten Tanjab Barat segera memprogramkan pertambakan kepiting bakau tersebut yang didahului dengan pengadaan pilot project , sebagai upaya percepatan pertambakan rakyat di seluruh Kabupaten Tanjab Barat. Diharapkan program ini menjadi program unggulan (core competence) daerah yang dapat menaikkan nilai tambah ekonomi dan daya saing daerah yang tinggi.

Oleh: Fathullah
Peneliti CIDES INDONESIA

http://www.pemkab-tanjungjabungbarat.go….

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

gimana dengan posting ini?